You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Desa Sukamukti
Desa Sukamukti

Kec. Banyuresmi, Kab. Garut, Provinsi Jawa Barat

SITU BAGENDIT BERTUTUR

Hendra Firdaus 02 April 2024 Dibaca 113 Kali
SITU BAGENDIT BERTUTUR

Tulisan ini diniatkan sebagai salah satu bentuk kecintaan kami terhadap alam Situ Bagendit khususnya yang berada di wilayah Desa Sukamukti Kecamatan Banyuresmi Kabupaten Garut. Tulisan ini merupakan esai yang menggambarkan Situ Bagendit dari sudut pandang, perspektif pandang dan lingkar pandang sebatas kemampuan dan kekhilafan kami dengan tetap berpijak pada rasa cinta dan kepedulian kepada alam Situ Bagendit sebagai “kakak atau saudara tua” kami. Mungkin ada beberapa tulisan yang objektif, subjektif atau rintihan dan kritik, tetapi hal tersebut tidak mengurangi kecintaan kami kepada seluruh pihak yang berniat membangun, memelihara Situ Bagendit sebagai anugerah dari Allah Sang Maha Rahman Rahim.

Kawasan Situ Bagendit terletak di Jl. K.H.Hasan Arif, termasuk dalam wilayah administratif Desa Sukamukti Kecamatan Banyuresmi Kabupaten Garut berada pada koordinat 07° 09' 30" – 07o 10'00" LS dan 97° 56' 15"– 97° 57' 00" BT.

Secara administratif, Situ Bagendit memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut :

  • Utara dengan Kampung Rancapare;
  • Barat dengan Kampung Kiaralawang;
  • Selatan berbatasan dengan Kampung Jolokbatu dan Jolokpaojan;
  • Timur berbatasan dengan Kampung Rancakujang dan Rancapari

Hampir seluruh wilayah permukaan di sekitar kawasan Situ Bagendit berada pada ketinggian yang sama, antara 700an mdpl. Fakta tersebut tercatat di seluruh desa di sekitar kawasan Situ Bagendit seperti tersaji dalam tabel berikut:

Desa/Kelurahan

Tinggi Rata- Rata (mdpl)

Luas Daerah (ha)

Pamekarsari

700,00

337,30

Sukaraja

700,00

505,90

Sukaratu

700,00

389,00

Cipicung

700,00

202,51

Bagendit

700,00

218,20

Banyuresmi

721,00

253,00

Sukamukti

700,00

487,00

Wilayah di sekitar kawasan Situ Bagendit terbagi menjadi dua bagian, yaitu hamparan atau lahan dataran dan perbukitan. Teridentifikasi tiga kelas kategori kemiringan lereng yang terbentuk di wilayah kawasan Situ Bagendit dan sekitarnya, yaitu kemiringan lahan kelas I berkategori lahan datar dengan interval kelerengan antara 0-8%, kemiringan lahan kelas II berkategori lahan landai dengan interval kelerengan antara 8-15%, serta kemiringan lahan kelas III berkategori agak curam dengan interval kelerengan antara 15-25%. Wilayah kawasan Situ Bagendit memiliki dua jenis tanah yaitu andosol dan aluvial. Keduanya terbentang mengitari areal badan air Situ Bagendit. Tanah andosol terbentang di wilayah sempadan bagian timur dan utara kawasan. Sedangkan tanah aluvial terbentang di sebagian wilayah sempadan utara situ, barat, hingga ke bagian selatan sempadan Situ Bagendit (dalam Jurnal Manajemen dan Leisure UPI, Vol.13, No.1, April 2016). Luas areal badan air Situ Bagendit saat ini seluas 87,57 ha dengan kedalaman air rata-rata 2,20 meter dengan kemampuan daya tampung air Situ Bagendit saat ini hanya 1.751.408 m3 saja. 

Faktor Teknis

Keterangan

Daerah pengairan sungai

Sungai Cimanuk

Sub daerah pengairan sungai

Ciojar & Cibuyutan

Luas semula

124 ha

Luas menjadi daratan sawah

36,43 ha

Luas eksisting tergenang

87,57 ha

Kedalaman air rata-rata

2,20 m

Kedalaman sedimen rata-rata

3,20 m

Vol. tampung air semula

6.200.000 m3

Vol. tampung air eksisting

1.751.408 m3

Vol. tampung sedimen total

3.720.000 m3

Vol tumpukan sedimen

2.627.112 m3

Badan air Situ Bagendit dialiri dari sungai Cimanuk dengan sub daerah pengairan sungai Ciojar dan Cibuyutan Selatan. Luas eksisting badan air Situ Bagendit adalah 87,57 ha. Kedalaman air rata-rata 2,20 m dengan kedalaman sedimen rata-rata 3,20 m. Saat ini badan air Situ Bagendit hanya mampu menampung 1.751.408 m3 akibat tumpukan sedimen yang mencapai 2.627.112 m3. 

Badan air Situ Bagendit dialiri dari sungai Cimanuk dengan sub daerah pengairan sungai Ciojar dan Cibuyutan Selatan. Luas eksisting badan air Situ Bagendit adalah 87,57 ha. Kedalaman air rata-rata 2,20 m dengan kedalaman sedimen rata-rata 3,20 m. Saat ini badan air Situ Bagendit hanya mampu menampung 1.751.408 m3 akibat tumpukan sedimen yang mencapai 2.627.112 m3. Sedangkan lahan pemanfaatan untuk rekreasi berada pada wilayah sempadan timur Situ Bagendit. Disana banyak berdiri pula bangunan warung-warung semi permanen yang dibangun oleh warga sekitar kawasan Situ Bagendit. Kemudian seluas 36,43 ha lahan kawasan telah berubah menjadi lahan pertanian sawah oleh penduduk sekitar. Wilayah ini sebagian besar pada wilayah sempadan bagian barat Situ Bagendit. Vegetasi di kawasan ini cukup untuk mendukung penataan ruang wisata yang berkonsep fungsi lindung dengan kerapatan pepohonan di sekitar kawasan.

Membicarakan Situ Bagendit tidak terlepas dari keberadaan pulau-pulau kecil yang berada di areal Situ Bagendit. Masyarakat di sekitar Situ Bagendit menamakan pulau-pulau tersebut dengan istilah Nusa. Beberapa Nusa yang berada di Situ Bagendit, diantaranya Nusa Kalapa, Nusa Gede, Nusa Leutik, Nusa Jati dan Nusa Onok. Penamaan istilah nusa ini diambil dari sejarah leluhur yang memulai “babat alas”, yakni membuka lahan atau wilayah tersebut untuk dimanfaatkan kepada masyarakat dengan tetap memelihara kearifan lokal. Tokoh leluhur yang memulai babat alas tersebut adalah Aki Nusa. Aki Nusa ini yang menjadi salah satu cikal bakal lahirnya keturunan masyarakat di sekitar Situ Bagendit khususnya di Desa Sukamukti. Keturunan (rundayan) dari Aki Nusa di kemudian hari melahirkan banyak tokoh masyarakat yang berperan dalam megembangkan Situ Bagendit baik dari wilayah spiritual, ekonomi dan kebudayaan.

Pada awalnya keberadaan nusa-nusa tersebut sebagai salah satu tempat habitat flora dan fauna yang mendukung mekanisme biologis di Situ Bagendit. Habitat burung-burung seperti Sosompoy, Kuntul, Elang, dan hewan-hewan lainnya. Pada perkembangan selanjutnya, kawasan nusa tersebut dimanfaatkan untuk lahan pertanian dan perkebunan oleh masyarakat sekitar Situ Bagendit.

Sejarah Situ Bagendit

Setiap manusia diharapkan memiliki kesadaran betapa pentingnya sejarah dalam kehidupan, kesadaran sejarah merupakan dimensi yang dimiliki manusia, dan di dalamnya berisi konsepsi waktu bagi individu–individu yang berbudaya. Sejarah berfungsi untuk membangkitkan kesadaran dalam kaitannya dengan kehidupan bersama dalam komunitas yang lebih besar, sehingga tumbuh kesadaran kolektif dalam memiliki kebersamaan dalam sejarah. Proses pengenalan diri inilah yang merupakan titik awal dari timbulnya rasa harga diri, kebersamaan, dan keterikatan (sense of solidarity), rasa keterpautan dan rasa memiliki (sense of belonging), kemudian rasa bangga (sense of pride) terhadap bangsa dan tanah air sendiri.

Sejarah terbentuknya Situ Bagendit menurut folklor atau cerita rakyat dikenal oleh hampir seluruh masyarakat Sunda di sekitarnya. Folklor adalah bagian dari kebudayaan. Folklor – apapun bentuk dan wujudnya -- diciptakan atau dikreasikan oleh manusia. Folklor dari generasi ke genarasi diwariskan melalui lisan atau setengah lisan (sebagian lisan). Menurut sesepuh ada ungkapan yang berbunyi yaitu, “Bagendit Tempat Kembali”. Ini bisa bermakna banyak, merupakan sebuah siloka atau simbol. Kaitan dengan mata pencaharian atau ekonomi bermakna, ketika para perantau mengalami kebuntuan pekerjaan di tempat rantau, maka Situ Bagendit menyediakan lahan pekerjaan lewat tangkapan ikan. Selain terkait faktor ekonomi, Situ Bagendit bagi hampir seluruh masyarakat Kiaralawang merupakan kampung halaman yang selalu dirindukan. Mengenang keindahan alamnya, potensi kekayaan alamnya dan kenangan-kenangan bersama keluarga dan orang-orang tercinta di Situ Bagendit.

Sejarah Situ Bagendit menurut para sesepuh di Desa Sukamukti ini agak berbeda dengan cerita yang beredar di sebagian besar masyarakat Sunda, yang tidak sesuai dengan kesaksian para tokoh atau sesepuh yang ada di Kampung Kiaralawang juga sesepuh-sesepuh lainnya yang berada di Desa Sukamukti. Perbedaan versi cerita rakyat yang terjadi bukan sesuatu yang mesti dipertentangkan. Sebagai salah satu masyarakat di sekitar Situ Bagendit, para sesepuh di Desa Sukamukti memahami perbedaan cerita rakyat tersebut dengan sikap arif dan bijaksana. Yang paling utama adalah mengambil suri tauladan atau hikmah yang terkandung dari setiap cerita yang diwariskan para leluhur, sebagai bekal dalam bersikap untuk anak cucu dalam menghadapi perkembangan zaman.

Cerita yang berkembang di masyarakat tentang legenda situ Bagendit, secara umum bahwa penamaan Bagendit diambil dari tokoh Nyi Endit, seorang perempuan yang mempunyai sifat kikir (medit/pelit) dan Mbah Baged, seorang kakek tunawisma yang mempunyai sebuah tongkat (iteuk). Sementara penamaan Bagendit menurut para sesepuh di Kampung Kiaralawang diambil dari kata “Baginda Indit”. Hal ini berdasarkan sejarah lisan dari para sesepuh, bahwa di daerah ini dahulu adalah salah satu tempat peristirahatan salah satu penyebar agama Islam (waliyulLoh). Sejarah tersebut kami dengar juga dari para penerus pimpinan Pesantren Babakan Waringin Cirebon dan pesantren Buntet Cirebon yang merupakan masih keturunan Sunan Gunung Djati. Daerah Garut umumnya khusunya daerah Banyuresmi menurut para sesepuh pesantren tersebut memiliki beberapa tokoh kharismatik yang menyembunyikan identitasnya (nyumput buni dinu caang).

Pada akhirnya, atas berbagai pertimbangan kearifan para sesepuh khususnya karakter para masyaikh zaman dulu yang berkarakter meyembunyikan identitasnya, akhirnya cerita penamaan Situ Bagendit diambil dari peran tokoh yang “diciptakan” dari kelompok kesenian di zaman tersebut. Seperti tokoh ciptaan karakter dalam wayang yang merupakan salah satu strategi para wali songo untuk menyebarkan Islam di tanah Nusantara. Tokoh karakter seperti Semar, Cepot, Dawala dan Gareng merupakan kreasi para wali yang disisipkan pada cerita Mahabharata atau Ramayana sebagai tujuan meyebarkan ajaran kasih sayang dalam balutan Islam yang Rahmatan Lil Alamin.

Situ Bagendit pada awalnya merupakan sebuah hutan belantara. Atas prakarsa para sesepuh waktu itu, - Asep Merang yang mendiami wilayah Jolok (selatan), Dalem Rangga Anggajigja yang mendiami Kiaralawang/Pasir Ucing (utara), Dalem Ranggawulung yang mendiami Jalupang (Tenggara), Dalem Wirasuta (Pasarean) dan Mbah Janggut (Nusa Ondok) – dibuatlah sebuah danau kecil sebagai sumber air yang bisa bermanfaat  sebagai sumber kehidupan bagi warga sekitarnya. Fungsi ekonomi dan fungsi budaya dalam menjaga kearifan lokal merupakan tujuan dari para sesepuh dalam membuat Situ Bagendit. Proses pembuatan danau ini dengan memanfaatkan aliran air dari Gunung Guntur melalui Sungai Cimanuk, kemudian para sesepuh dibantu masyrakata ketika itu membuat sodetan dari Sungai Cimanuk untuk mengairi ke arah Situ Bagendit kecil.

Setelah terbentuknya danau kecil, para sesepuh tersebut sepakat untuk mengadakan ruwatan untuk keselamatan dan kemaslahatan lingkungan danau dan hutan tersebut. Kemudian mereka mengadakan acara kesenian dengan mengundang para penari lengkap dengan nayaga-nya. Ruwatan tersebut dilaksanakan pada hari senin malam (malem salasa) sesuai dengan kesepakatan (melalui tirakat) dari para sesepuh tersebut. Akhirnya acara ruwatan dimulai dengan do’a-do’a (jampe), yang dilanjutkan dengan bertabuhnya alat-alat kesenian dari para nayaga. Selanjutnya tibalah para ronggeng –penari- yang dipimpin oleh seorang laki-laki bernama Baged dan perempuan bernama nyi Endit, mereka memperlihatkan kemampuan mereka menari dengan diiringi oleh berbagai alat kesenian tradisional seperti, gendang, gamelan, rebab dan goong. Ketika acara kesenian tersebut sedang berlangsung, disaat hampir semua orang terhanyut dengan kegembiraan meskipun dalam suasana mistik, tiba-tiba danau kecil tersebut berubah mengeluarkan air bah yang menenggelamkan semua anggota kelompok kesenian tersebut, kecuali tukang rebab (mbah Sinanglir) yang melesat terbang ke atas. Dengan kejadian tragis tersebut, maka para sesepuh sepakat untuk menamakan danau atau situ tersebut dengan nama Bagendit, untuk menghormati penampilan terakhir kelompok kesenian tersebut yang dipimpin oleh Kang Baged dan Nyi Endit.

Menurut sebagian warga sekitar khususnya para orang tua, sampai sekarang, suara-suara dari alat kesenian tersebut sering terdengar oleh mereka yang berasal dari arah Situ Bagendit. Pada awalnya warga di daerah utara Bagendit mengira ada hajatan di daerah selatan, begitupun sebaliknya warga di daerah selatan Bagendit mengira ada hajatan di daerah utara, kemudian mereka berduyun-duyun menuju ke arah suara-suara tersebut yang ternyata berasal dari arah Situ Bagendit. Para warga yang yang bertemu dari dua arah tersebut akhirnya memahami dan kemudian menyimpulkan bahwa hal tersebut merupakan pertanda (siloka), agar diantara warga yang mendiami terutama di sekitar Bagendit harus sering bersilaturahmi untuk mempererat kekerabatan, umumnya dengan umat manusia di muka bumi ini sesuai dengan kemampuannya.

Pada musim kemarau panjang yang mengakibatkan Situ Bagendit mengalami kekeringan, sebagian masyarakat banyak menemukan pohon-pohon besar ketika mereka menggali Situ Bagendit. Selain itu ada beberapa penemuan berupa piring logam berukuran besar, batu bata berukuran besar dan temuan lainnya.

Di Kampung Kiaralawang yang merupakan bagian dari Desa Sukamukti khususnya terdapat juru kunci (kuncen) Situ Bagendit. Keberadaan juru kunci di Situ Bagendit memiliki peranan yang berkaitan erat dengan keberlangsungan ekologi Situ Bagendit. Juru kunci bertugas menjaga hubungan serasi antara masyarakat, adat, dan alam lingkungan. Hanya seiring berjalannya waktu, fungsi dan peran juru kunci sebagai panduan dalam menjaga kearifan lokal mulai tergerus jaman. Ketika dalam beberapa waktu –biasanya minimal seminggu- tangkapan ikan menurun drastis, para nelayan lewat bimbingan juru kunci melaksanakan ritual Hajat Bagendit sebagai bentuk rasa syukur dan permohonan maaf kepada alam.

Juru kunci atau kuncen di Kampung Kiaralawang Desa Sukamukti adalah keturunan dari Aki Nusa melalui jalur keturunan Eyang Mama Haji Hasan. Saat ini posisi juru kunci Situ Bagendit dipercayakan kepada Ma Anah yang merupakan generasi ke tujuh dari Eyang Mama Haji Hasan.

Fungsi Situ Bagendit.

Situ adalah istilah yang digunakan masyarakat Sunda untuk menyebut danau yang memiliki ukuran relatif kecil. Situ merupakan daerah penampung air yang terbentuk secara alamiah ataupun buatan manusia yang merupakan sumber air baku bagi berbagai kepentingan dalam kehidupan manusia. Sumber air yang ditampung di perairan ini pada umumnya berasal dari air hujan run off, sungai atau saluran pembuangan, dan mata air. Air tersebut dipasok dari Daerah Tangkapan Air DTA di sekitar situ. Daerah tangkapan air adalah wilayah di atas danau atau situ memasok air ke danau atau situ tersebut.

Situ merupakan salah satu sumberdaya perairan umum yang mempunyai potensi strategis dan manfaatnya bersifat serbaguna baik secara ekologis maupun ekonomis. Berdasarkan Keppres No. 32 Tahun 1990, situ merupakan kawasan lindung setempat. Situ adalah genangan air dalam suatu cekungan di permukaan tanah yang terbentuk secara alami maupun buatan, yang airnya bersumber dari air permukaan dan atau air tanah. Berukuran relatif lebih kecil dibanding danau, tergolong kedalam ekosistan perairan air tawar terbuka dan dinamis. Kuantitas dan kualitas airnya berhubungan dengan tata air dan drainase wilayah serta dipengaruhi oleh tipe pemanfaatan badan air situ dan pemanfaatan lahan di dalam wilayah tangkapannya.

Belum ditemukan data dan fakta tertulis terbentuknya Situ Bagendit. Meskipun dari pengalaman para sesepuh di Situ Bagendit, ketika kemarau Panjang Situ bagendit mengalami kekeringan. Para sesepuh ini sering menemukan pohon-pohon besar yang diperkirakan berumur ratusan tahun. Mungkin saja dahulu daerah Situ Bagendit merupakan hutan. Sumber air Situ Bagendit berasal dari curah hujan, saluran pembuangan daerah irigasi Ciojar, saluran pembuangan Cibuyutan selatan dan dari saluran air dari Gunung Guntur, serta saluran keluar air Situ Bagendit melalui Parigi. Situ Bagendit di sebelah timur dimanfaatkan oleh warga sekitar sebagai sarana pariwisata dan sebagai mata pencaharian dalam bidang perikanan, seperti kegiatan penangkapan ikan, pembesaran ikan di karamba jaring apung, dan sebagai irigasi bagi areal pesawahan. Luas situ Bagendit ± 120 ha dan berada dalam ketinggian 800 meter di atas permukaan laut. Pada umumnya Situ Bagendit berfungsi sebagai daerah resapan air yang airnya dapat dimanfaatkan untuk pengairan, sebagai sumber keanekaragaman hayati, dan tempat wisata.

Salah satu keunikan dari Situ Bagendit adalah terdapat beberapa pulau kecil di area Situ Bagendit, yang dinamakan nusa oleh masyarakat sekitar Situ Bagendit. Diantaranya ada Nusa Kalapa, Nusa Gede, Nusa Leutik, Nusa Jati dan Nusa Onok. Masyarakat menggunakan areal nusa-nusa tersebut untuk lahan pertanian dan perkebunan secara turun temurun dari para nenek moyang.

Fungsi Ekologi

Fungsi Situ Bagendit dari sudut pandang ekologi yaitu sebagai habitat kehidupan biota air atau keanekaragaman hayati akuatik yang terdapat di Situ Bagendit. Baik berupa flora maupun faunanya. Selain itu berfungsi sebagai reservoir yang dapat dimanfaatkan airnya sebagai alat pemenuhan irigasi dan perikanan, sebagai sumber air baku, sebagai tangkapan air serta penyuplai air tanah. Pemanfaatan dan fungsi Situ Bagendit sebagai salah satu sumber pengairan (irigasi) untuk lahan persawahan di sekitar Situ Bagendit, dengan teknik pengambilan air yang dinamakan ngagobag.

Keanekaragaman hayati yang ada di Situ Bagendit diantaranya adalah tumbuhan walini, teratai air (nymphaea), eceng gondok (eichhornia crassipes) dan rumput khas Situ Bagendit (ramokasang). Selain itu terdapat berbagai jenis ikan air tawar, diantaranya ikan nila, jongjolong, betok, deleg, mujaer, lele, patin, paray, regis, rarong. Kemudian ada siput, keong dan pernah juga ditemukan biawak dan ular air serta berbagai jenis plankton.

Fungsi Ekonomi

Sedangkan fungsi Situ Bagendit dari sudut pandang ekonomi, yaitu sebagai tempat menangkap ikan untuk kebutuhan ekonomi keluarga. Selain kegiatan memancing pada umumnya dalam mendapatkan ikan, di Situ Bagendit terdapat beberapa cara dalam menangkap ikan. Keanekaragaman cara dalam menangkap ikan di Situ Bagendit merupakan bentuk kreativitas warga dan termasuk salah satu unsur kebudayaan yang erat kaitannya dengan kearifan lokal di bidang mata pencaharian. Kreativitas para nelayan dalam menangkap ikan diantaranya adalah Ngangoh, Ngecrik, Milet, Nyirib, Ngalagar, Ngaleled, Ngagere, Ngarangah, Ngabubu.

 

 

Beri Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui oleh admin
CAPTCHA Image

APBDes 2024 Pelaksanaan

Pendapatan
Rp 1.854.166.867,00 Rp 1.854.166.867,00
100%

APBDes 2024 Pendapatan

Dana Desa
Rp 1.170.968.000,00 Rp 1.170.968.000,00
100%
Bantuan Keuangan Provinsi
Rp 130.000.000,00 Rp 130.000.000,00
100%
Bantuan Keuangan Kabupaten/Kota
Rp 553.198.867,00 Rp 553.198.867,00
100%

APBDes 2024 Pembelanjaan